Articles

stabilisasi teks alquran

In bahan dan handout kuliah on Mei 7, 2011 by Taufik Adnan Amal


STABILISASI TEKS AL-QURAN

Upaya Utsman melakukan unifikasi atau standardisasi teks dan bacaan al-Quran lewat pengumpulannya terlihat belum mencapai hasil yang dihajatkan. Sejak awal penyebarannya, dilaporkan bahwa mushaf-mushaf utsmani memiliki sejumlah variasi antara satu dengan lainnya, dan bahkan terdapat sejumlah kekeliruan penulisan yang dilakukan secara tidak sengaja. Jadi, ketika memeriksa salah satu eksemplar al-Quran yang telah selesai ditulis, Utsman menemukan beberapa kekeliruan yang, menurutnya, tidak perlu diubah, karena orang-orang Arab – dengan lisãn mereka – bisa membetulkannya. Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Aisyah juga menemukan sejumlah kekeliruan penulisan, serta menegaskannya sebagai kekeliruan para penulisnya. Eksistensi laporan-laporan semacam ini tentunya tidak menyenangkan bagi kaum Muslimin. Sejumlah sarjana Muslim secara sederhana menolak keseluruhan laporan itu, sementara sebagian lagi meneliti keabsahannya dengan menerapkan kritik isnãd, yang dalam sebagian besar kasus – kecuali riwayat dari Aisyah yang, menurut Al-Suyuthi, isnadnya memenuhi kriteria Bukhari-Muslim – berhasil dinyatakan ahistoris.

Lebih jauh, scriptio defectiva yang digunakan untuk menyalin al-Quran ketika itu masih membuka peluang bagi pembacaan teks kitab suci secara beragam. Selain non-eksistensi tanda-tanda vokal, sejumlah konsonan berbeda dalam aksara ini dilambangkan dengan simbol-simbol yang sama. Kekeliruan pembacaan teks al-Quran (tashhîf) yang disalin dalam aksara semacam itu tentu saja bisa diminimalisasi atau dihindari jika seseorang mempunyai tradisi hafalan yang kuat, atau paling tidak memiliki tingkat keakraban yang tinggi terhadap teks kitab tersebut. Kalau tidak demikian, maka sangat mungkin baginya terjebak dalam kekeliruan pembacaan. Bahkan, terdapat kesan yang kuat bahwa scriptio defectiva juga turut berperan dalam memunculkan variae lectiones.

Asumsi tentang keragaman bacaan yang disebabkan oleh scriptio defectiva tentu saja tidak dibenarkan dalam pandangan dunia tradisional. Bagi ortodoksi Islam, bacaan-bacaan tersebut – khususnya dalam kategori mutawãtir dan masyhûr – merupakan bacaan-bacaan otentik al-Quran yang bersumber dari Nabi. Basis untuk menyatakan ragam bacaan tersebut sebagai alternatif-alternatif bacaan wahyu orisinal biasanya dipijakkan pada sejumlah besar hadits yang kurang lebih mengemukakan bahwa al-Quran diwahyukan dalam tujuh huruf (‘alã sab‘ah ahruf). Tetapi, sejumlah otoritas Syi‘ah menolak keabsahan hadits-hadits ini. Bagi mereka, al-Quran diwahyukan hanya dalam satu harf dan berbagai perbedaan dalam pembacaan kitab suci tersebut disebabkan para perawinya. Penolakan ini, dalam kenyataannya, membawa implikasi yang jauh menjangkau. Jika keragaman bacaan al-Quran disebabkan para perawinya, maka yang menjadi masalah adalah bacaan mana yang bisa disebut sebagai bacaan orisinal dari berbagai bacaan yang ada dalam tradisi Islam. Jawaban yang diajukan kelompok Syi‘ah untuk masalah ini adalah bahwa al-Quran yang sejati itu akan dibawa kembali oleh Imam Mahdi yang dinantikan kehadirannya.

Namun, menurut berbagai laporan, kekeliruan pembacaan al-Quranlah yang mendorong dilakukannya penyempurnaan terhadap rasm (“ortografi”) al-Quran atas prakarsa otoritas politik, seperti Ziyad ibn Samiyah dan al-Hajjaj ibn Yusuf. Langkah aktual penyempurnaannya – yakni penciptaan tanda-tanda vokal, tanda-tanda pembeda konsonan yang bersimbol sama, serta sejumlah tanda ortografis lainnya, seperti hamzah, sukûn, tanwîn, tasydîd, maddah, dll. – dikabarkan telah dilakukan sejumlah pakar bahasa, seperti Abu al-Aswad al-Du‘ali, Nashr ibn Ashim, Yahya ibn Ya‘mur, dan al-Khalil ibn Ahmad.

Tanda vokal pada mulanya diperkenalkan al-Du‘ali berupa titik-titik diakritis, kemudian diubah ke dalam bentuk huruf-huruf vokal: alif untuk fathah (a), wãw untuk dlammah (u), dan yã’ untuk kasrah (i) – menurut sumber-sumber Islam dilakukan oleh al-Khalil ibn Ahmad. Pada tahapan selanjutnya, tanda-tanda vokal itu kemudian disempurnakan dan mencapai bentuk yang dikenal dewasa ini. Sementara tanda-tanda pembeda konsonan yang bersimbol sama dikabarkan diintroduksi dengan titik-titik diakritis oleh murid-murid al-Du‘ali, yakni Nashr ibn Ashim dan Yahya ibn Ya‘mur. Tanda-tanda baca ini kemudian disempurnakan sehingga mencapai bentuk yang ada saat ini.

Versi tradisional tentang penyempurnaan aksara Arab, selain berkontradiksi antara satu dengan lainnya, juga terlihat bertentangan dengan temuan-temuan paleografis atau manuskrip-manuskrip al-Quran yang awal. Dari berbagai temuan itu, diketahui bahwa titik-titik pembeda konsonan sebagiannya telah dikenal dan mungkin telah diintroduksi pada masa pra-Islam, mengikuti model penulisan Suryani. Dapat dipastikan bahwa titik-titik diakritis tersebut telah digunakan pada abad pertama Islam, sekalipun tidak tersebar secara luas sebagaimana yang terjadi pada masa belakangan. Tidak meluasnya penggunaan titik-titik diakritis ini bisa dibuktikan dengan manuskrip-manuskrip dan fragmen-fragmen al-Quran awal yang bersih dari titik-titik tersebut. Sementara tanda-tanda vokal berupa titik-titik diakritis – kemungkinan juga diadopsi dari aksara Suryani –  juga tampaknya sangat tua, tetapi masa pengintroduksiannya ke dalam aksara Arab tidak dapat ditetapkan secara pasti. Yang jelas, pada abad ke-2H penggunaannya dalam penulisan mushaf al-Quran belum mendapat justifikasi. Malik ibn Anas, misalnya, menuntut bahwa mushaf al-Quran harus dibersihkan dari titik-titik vokal. Dengan demikian, dapat disimpulkan secara pasti bahwa scriptio plena tidak muncul dalam seketika, tetapi secara bertahap melalui serangkaian perubahan yang bersifat eksperimental.

Bentuk tulisan al-Quran, setelah diintroduksinya scriptio plena, bisa dikatakan sebagai aksara “gado-gado”, lantaran tarik-menarik dan kompromi antara kekuatan-kekuatan yang menghendaki penyempurnaan ortografi utsmani dan yang mempertahankan bentuk orisinalnya.  Tarik-menarik antara kedua kutub yang berseberangan ini barangkali telah menghasilkan kompromi dalam bentuk teks al-Quran yang ada di tangan kita dewasa ini, di mana sebagian kecil karakteristik ortografi utsmani – dengan sejumlah penyesuaian mengikuti scriptio plena – tetap dipertahankan, seperti penulisan kata-kata shalãt, al-rahmãn, kitãb, dll. Sekalipun demikian, mesti dicatat bahwa dalam sejumlah manuskrip al-Quran dari masa yang awal penyalinan kata-kata itu juga dilakukan mengikuti rasm imlã’î (scriptio plena).

Kompromi di atas juga menyebabkan eksisnya berbagai inkonsistensi dalam teks al-Quran yang ada di tangan kita dewasa ini. Inkonsistensi-inkonsistensi ini, pada faktanya, memperlihatkan upaya untuk mengakomodasi berbagai perkembangan tradisi oral dan tulisan al-Quran yang eksis di kalangan kaum Muslimin ketika itu. Jadi, dalam teks yang sekarang, bisa ditemukan penggunaan ta’ mabsuthah sebagai pengganti ta’ marbuthah, misalnya untuk penyalinan kata rahmah dalam 2:218; 7:56; 11:73; 19:2; 30:50; 43:32 (dua kali), atau kata ni‘mah dalam 2:231; 3:103; 5:11; 14:28,34; 16:72,83,114; 31:31; 35:3; 52:29, sementara di bagian al-Quran lainnya kata-kata tersebut disalin dengan model penulisan yang lazim – yakni menggunakan tã’ marbûthah. Penyalinan dengan ta’ mabsuthah, dalam kasus-kasus tertentu, juga telah menimbulkan perbedaan bacaan. Jadi, kata kalimah dalam 6:115 dan 10: 96, dibaca para qurra’ Damaskus dalam bentuk jamak (kalimat), sementara qurra’ kota lainnya membaca dalam bentuk tunggal (kalimah). Demikian pula, kata  ayah  dalam 29:49 dan kata  tsamarah  dalam 41:47, dibaca Hafsh ‘an Ashim dalam bentuk jamak, tetapi kiraah lain membacanya dalam bentuk tunggal.

Sementara penulisan kata shalah, zakah, dengan menggunakan media waw sebagai pengganti alif untuk melambangkan vokal panjang â, tetap dipertahankan dalam teks al-Quran yang digunakan dewasa ini. Tetapi, dalam manuskrip mushaf utsmani beraksara kufi yang awal, juga ditemukan penyalinan vokal panjang â dalam kata-kata tersebut dengan menggunakan alif. Bahkan, dalam manuskrip-manuskrip ini, penggantian ya’ dengan alif juga terjadi, misalnya untuk kata hatta dalam 15:99, kata ‘ala dalam 8:49, kata ‘agna dalam 26:207, dan lainnya.

Inkonsistensi yang sama juga terlihat dalam penulisan sejumlah partikel. Jadi, penulisan mimma  yang digabung di hampir keseluruhan teks al-Quran, di tiga tempat ditulis terpisah (min ma). Penulisan ‘amma umumnya digabung, tetapi dalam 7:166 dipisah (‘an ma). Penyalinan alla biasanya digabung, namun di sepuluh tempat ditulis secara terpisah (an la). Ungkapan in lam pada umumnya dipisah penulisannya, kecuali dalam 11:14 digabung (fa’illam). Penulisan imma lazimnya digabung, kecuali dalam 13:40 dipisah (wa in ma). Partikel innama biasanya ditulis menyatu, kecuali dalam 6:134 disalin terpisah (inna ma). Ungkapan likay la dua kali (16:70; 33:37) ditulis terpisah –  juga kay la dalam 59:7 – dan 4 kali (3:153; 22:5; 33:50; 57:23) disatukan (likayla), dan lain-lain.

Masih banyak lagi inkonsistensi penulisan lain dalam teks al-Quran yang ada di tangan kita dewasa ini – terutama dalam bentuk-bentuk penambahan (ziyadah) atau pengurangan (hadzf) – yang biasanya dibahas di dalam kitab-kitab ulum al-Quran, khususnya dalam topik rasm al-Quran. Berbagai inkonsistensi tersebut biasanya ditenggelamkan dengan menekankan bahwa karakteristik ortografi semacam itu merupakan bagian dari ‘ijaz al-Quran. Labib al-Said, ketika membela keanehan ortografi al-Quran ini, misalnya, mengemukakan bahwa kekhususan tulisan utsmani masuk ke dalam kategori misteri ilahi, sama halnya dengan huruf-huruf potong pada permulaan sejumlah surat al-Quran, yang pemahaman atasnya tidak diberikan kepada manusia, kecuali dalam keadaan-keadaan khusus lewat inspirasi ilahi. Tetapi, berbagai eksperimen untuk menyempurnakan penulisan al-Quran yang ditemukan dalam manuskrip-manuskrip utsmani tampaknya tidak menjustifikasi keanehan rasm utsmani sebagai bagian dari ‘ijaz al-Quran.

Sejak lama telah muncul di kalangan sarjana Muslim upaya-upaya untuk membenahi inkonsistensi itu dan, dengan demikian, melakukan desakralisasi rasm al-Quran. Abu Bakr al-Baqillani, misalnya, menegaskan bahwa al-Quran maupun hadits tidak mewajibkan cara tertentu untuk penulisan mushaf. Karena itu, penulisan al-Quran bebas menggunakan bentuk tulisan apapun. Demikian pula, tidak terdapat konsensus umat (ijmã‘) yang mewajibkannya. Bahkan, menurut al-Baqillani, Sunnah menunjukkan kebolehan penulisan al-Quran dalam cara yang memudahkan pembacaannya. Nabi memerintahkan para sahabat untuk menuliskan al-Quran, tetapi tidak mengharuskan atau melarang mereka menuliskannya dalam cara tertentu. Itulah sebabnya, mushaf para sahabat – yakni mushaf-mushaf pra-utsmani – memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya: ada yang menuliskannya menurut pengucapan lafal, ada yang menambah atau menguranginya. Al-Baqillani selanjutnya menegaskan kebolehan penulisan mushaf dengan berbagai cara, baik dengan tulisan dan ejaan  primitif ataupun dengan tulisan dan ejaan baru.

Pandangan al-Baqillani di atas, memiliki gaung yang cukup luas. Pada abad ke-7H., ‘Izz al-Din Abd al-Salam melangkah lebih jauh  dengan melarang penggunaan rasm utsmani, bahkan di kalangan sarjana, dengan alasan penggunaan tulisan tersebut akan membuka peluang terjadinya perubahan dan penyimpangan di kalangan awam. Beberapa otoritas Muslim lainnya menegaskan bahwa penggunaan tulisan utsmani hanya wajib pada masa awal Islam, ketika pengetahuan langsung tentang al-Quran masih segar dan kuat, tetapi penggunaannya pada masa-masa sesudahnya telah menebarkan kebingungan.

Sejumlah pemikir Islam modern, misalnya Ahmad Hasan al-Jayyat, menekankan kembali argumen-argumen di atas dalam rangka menjadikan sistem penulisan al-Quran akrab dengan masyarakat Muslim. Sementara, beberapa sarjana Muslim lainnya bahkan mengklaim bahwa rasm utsmani telah memutarbalikkan dan mendistorsi makna kata-kata hingga ke taraf mendekati kekufuran, serta bahwa rasm tersebut mengandung kontradiksi dan ketidaksesuaian yang tidak dapat dijustifikasi ataupun dijelaskan. Abd al-Aziz Fahmi, mantan anggota Akademi Bahasa Arab (Majma‘ al-Lugah al-‘Arabiyah), melangkah lebih jauh dengan mengajukan proposal penggantian aksara Arab dengan aksara Latin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: