Articles

pewahyuan alquran (nuzulul-quran)

In bahan dan handout kuliah on Mei 7, 2011 by Taufik Adnan Amal


Nuzul al-Quran
Pewahyuan al-Quran: Sehubungan dengan pewahyuan al-Quran, dikemukakan bahwa ia pertama kali diturunkan pada malam al-qadr atau malam yang diberkahi Tuhan (97:1 dan 44:3-4). Malam ini, menurut penjelasan bagian al-Quran lainnya (2:185), terjadi pada salah satu malam di bulan Ramadlan. Sejumlah besar mufassir berupaya menginterpretasikan malam tersebut dengan merujuk 8:41, yang mengindikasikan penurunan furqãn pada “hari bertemunya dua pasukan” – yakni bertemunya pasukan Islam dengan bala tentara Quraisy dalam Perang Badr – dan menetapkan tanggal 17 Ramadlan sebagai yang dimaksud oleh bagian-bagian al-Quran di atas. Tetapi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pemberian furqãn dalam Perang Badr lebih merefleksikan “penyelamatan” atau pertolongan Tuhan berupa penganugerahan kemenangan kepada kaum Muslimin dalam pertempuran yang tidak seimbang itu. Lebih jauh, beberapa hadits memberi penjelasan lain tentangnya. Sebagian hadits mengemukakan laylatu-l-qadr terjadi pada malam ganjil di bulan Ramadlan, sementara hadits lain menjelaskannya terjadi pada malam ganjil di pertigaan terakhir bulan tersebut.
Penurunan pertama al-Quran ini setidak-tidaknya dalam bentuk embrionik dari lauh al-mahfûdz ke bayt al-‘izzah di langit dunia – atau hati Nabi, sebagaimana dikemukakan sejumlah pemikir seperti Al-Gazali (w. 1111) dan Syah Wali Allah al-Dihlawi (w. 1762). Dari bentuk embrionik ini kemudian berkembang rincian-rincian al-Quran selama kurang lebih 20 (atau 23 atau 25) tahun, selaras dengan perkembangan misi kenabian Muhammad. Ibn Abbas (w. 687/8), salah seorang sahabat Nabi yang memiliki otoritas dalam studi al-Quran, misalnya, mengemukakan bahwa al-Quran diturunkan sekaligus ke langit dunia pada laylat al-qadr, setelah itu bagian demi bagiannya diturunkan secara berangsur-angsur kepada Muhammad dari waktu ke waktu.
Pendapat di atas dipandang paling sahih dan dipegang mayoritas sarjana Muslim. Tetapi, terdapat juga pandangan minoritas lainnya yang berkembang di dalam Islam. Sebagian kecil sarjana Muslim, misalnya, menganggap bahwa al-Quran diturunkan ke langit dunia dalam 20 (atau 23 atau 25) kali laylatu-l-qadr. Pada setiap malam tersebut diturunkan wahyu untuk kebutuhan satu tahun, yang kemudian disampaikan kepada Nabi di sepanjang tahun itu secara berangsur-angsur. Sementara minoritas sarjana Muslim lainnya memandang bahwa permulaan turunnya al-Quran adalah pada malam al-qadr. Setelah itu wahyu disampaikan dalam berbagai kesempatan selama masa kenabian Muhammad secara berangsur-angsur.
Penurunan gradual al-Quran, seperti terlihat, ditekankan dalam seluruh pendapat yang berkembang, dan ini memang sejalan dengan penegasan kitab suci itu sendiri. Bagi al-Quran, suatu pewahyuan total pada suatu waktu – sekalipun dituntut para oposan Nabi (25:32) – adalah mustahil, karena kenyataan sesungguhnya bahwa ia harus turun sebagai petunjuk bagi kaum Muslimin dari waktu ke waktu, selaras dengan kebutuhan-kebutuhan yang muncul. Sehubungan dengan ini, al-Quran mengungkapkan: “(Telah Kami turunkan) sebuah Quran yang Kami bentangkan secara gradual sehingga kamu (Muhammad) dapat membacakannya kepada manusia secara bertahap, (karena itu) Kami menurunkannya hanya dalam bagian-bagian” (17:106).
Modus Pewahyuan: Paling lengkap dalam 42:51-52 (wa mâ kâna libasyar an yukallimuhu-llah illa…)
wahyu, dipandang sinonim dengan ilham dan ditafsirkan sebagai ru’yat al-shalihah
dari balik tabir, ditafsirkan wahyu tanpa perantara dari balik hijab seperti Musa di bukit Sina
lewat utusan spiritual, yakni ruh min amr.
Bentuk terakhir pewahyuan inilah yang dialami Nabi seperti dinyatakan di sejumlah tempat di dalam al-Quran (2:97; 16:102; 26:152-154; dll). Di sini ditegaskan jibril menyampaikan wahyu ke dalam hati Nabi. Bahwa Jibril merupakan agen wahyu atau utusan spiritual yang menyampaikan wahyu Ilahi kepada Muhammad, dikonfirmasi al-Quran di beberapa tempat lainnya (2:97; 16:102; 26: 192-194; dll.). Bahkan dalam bagian-bagian al-Quran ini dijelaskan bahwa Jibril menyampaikan wahyu Ilahi ke dalam hati Nabi. Jadi, dalam 26:192-193, misalnya, disebutkan: “Dan sesungguhnya (al-Quran) ini diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh al-rûh al-amîn, ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang pemberi peringatan.” Dengan demikian, wahyu dan agennya jelas bersifat spiritual dan internal bagi Muhammad. Hal ini juga dinyatakan dalam bagian al-Quran lainnya: “Jika Tuhan menghendaki, maka akan Dia tutup mata hatimu (hai Muhammad), sehingga tidak akan ada lagi wahyu yang datang kepadamu” (42:24; cf. 17:85-86).
Jibril – agen spiritual penyampai wahyu Ilahi kepada Muhammad – hanya disebutkan tiga kali di dalam al-Quran (2:97, 98; 66:4), dan keseluruhannya berasal dari periode Madinah. Dari tiga kali pemunculan tersebut, seperti telah disinggung di atas, hanya satu kali saja yang bertalian dengan pewahyuan al-Quran (2:97). Pemunculannya yang sangat belakangan ini telah menimbulkan spekulasi di kalangan sarjana Barat tentang pengaruh tradisi Yudeo-Kristiani dalam identifikasi tersebut.
Pandangan di atas mencerminkan suatu kegagalan dalam mengapresiasi perkembangan misi kenabian Muhammad dalam bentangan historisnya. Identifikasi-identifikasi agen wahyu, dalam kenyataannya berkembang selaras dengan perkembangan misi tersebut, dan baru mencapai bentuk finalnya setelah Perang Badr. Dalam proses perkembangan ini, al-Quran pada mulanya menerima aspek-aspek tertentu keyakinan atau world-view masyarakat Arab, karena tidak mungkin mengubahnya dalam seketika. Kepercayaan-kepercayaan pagan Arab itu kemudian ditransformasikan atau diganti secara gradual dengan unsur-unsur islami, hingga mencapai bentuk finalnya. Proses perkembangan semacam ini, pada faktanya, terjadi dalam hampir keseluruhan gagasan keagamaan Islam
Bentuk pewahyuan dalam hadits-hadits berkembang lebih banyak: Hasbi Ash-Shiddieqy, misalnya, menegaskan bahwa Nabi telah mengalami seluruh macam martabat pewahyuan: (i) mimpi; (ii) wahyu dicampakkan ke dalam hati Nabi; (iii) wahyu datang kepada Nabi laksana gemerincing lonceng; (iv) malaikat yang menyampaikan wahyu menjelmakan dirinya dalam bentuk lelaki tampan (Dihyah ibn Khalifah); (v) Jibril memperlihatkan dirinya dalam bentuk asli; (vi) Tuhan berbicara kepada Nabi dari balik tabir, baik dalam keadaan terjaga ataupun dalam impian; dan (vii) sebelum Jibril menyampaikan wahyu al-Quran, Israfil – atau Mikail, menurut hadits lainnya – turun membawa beberapa kalimat wahyu. Ash-Shiddieqy juga menambahkan sejumlah keterangan lain – yakni wahyu Tuhan kepada Nabi ketika mi‘raj, firman Tuhan langsung tanpa perantara kepada Nabi, datangnya wahyu seperti dengungan lebah – untuk melengkapi ketujuh martabat wahyu tersebut.
Sebagian besar cara penyampaian wahyu kepada Nabi yang diberitakan dalam hadits-hadits itu, pada dasarnya merupakan bagian dari upaya untuk menjelaskan bagian-bagian tertentu al-Quran yang bertalian dengan mekanisme pewahyuan. Sejak masa yang awal, kaum Muslimin telah berselisih pendapat tentang masalah Nabi pernah melihat Tuhan dan menerima langsung – tanpa perantara – wahyu dari-Nya atau tidak. Aisyah, misalnya, dengan tegas menyangkali kemungkinan semacam itu. Sekalipun demikian, sudut pandang yang mengkonfirmasi kemungkinan Muhammad melihat Tuhan dan menerima wahyu secara langsung dari-Nya tetap bertahan. Sebagian lagi berupaya melunakkan sudut pandang terakhir ini dengan menegaskan bahwa Nabi melihat Tuhan dengan hatinya (bi-qalbihi atau bi-fu’adihi). Tetapi, dari sudut pandang al-Quran yang ketat, seperti telah dikemukakan di atas, kemungkinan ru’yatu-llãh ataupun pewahyuan langsung dari Tuhan adalah negatif.
Dalam sejarah pemikiran Islam, gagasan tentang hakikat wahyu yang diterima Nabi – apakah dalam bentuk verbal atau sekedar ide –telah menimbulkan kontroversi akut dan berkepanjangan. Sebagian sarjana Muslim memandang bahwa wahyu disampaikan hanya dalam bentuk ide saja, Nabi kemudian mengungkapkan redaksinya dengan kata-katanya sendiri dalam bahasa Arab. Sebagian sarjana Muslim lainnya menegaskan bahwa Allah hanya menyampaikan ide kepada Jibril, lalu Jibril mengungkapkan gagasan wahyu tersebut ke dalam bahasa Arab yang selanjutnya disampaikan kepada Nabi. Sementara mayoritas sarjana Muslim berpendapat bahwa al-Quran itu diwahyukan dalam bentuk lafaz maupun maknanya.
Pendapat pertama dan kedua di atas, secara sederhana bisa dikesampingkan karena bertentangan dengan gagasan al-Quran tentang pewahyuan verbal. Sementara pandangan ketiga, hingga taraf tertentu, sejalan dengan penegasan al-Quran. Tetapi, pada sisi lain, pendapat ini gagal mengaitkan kepribadian terdalam Nabi dalam proses pewahyuan. Bahkan, gambaran yang ditampilkannya tentang hubungan antara Nabi dan wahyu justeru sangat bersifat mekanis dan eksternal – yakni wahyu datang kepada Nabi melalui telinga dan agen wahyu itu bersifat eksternal baginya. Padahal, seperti ditunjukkan di atas, al-Quran tampaknya menekankan baik karakter verbal wahyu itu sendiri maupun hubungan intimnya dengan kepribadian religius Nabi.
Beberapa petunjuk bisa ditemukan di dalam al-Quran yang menyiratkan bahwa sebagian besar pengalaman kenabian Muhammad itu terjadi di malam hari, waktu “yang paling kuat kesannya dan paling pantas dalam pembicaraan,” dibandingkan siang hari, ketika ia disibukkan dengan berbagai urusan (73:1-7). Berdasarkan konteks bagian al-Quran ini dan beberapa bagian lainnya (22:1; 76:26; 17:79; 73:20 97:1 cf. 74:1-7), dapat dipastikan bahwa sejak awal kenabiannya Muhammad sangat sering bangun malam untuk bertahajjud, disamping berpuasa – suatu exercise yang diakui oleh tokoh psikologi J. Mueller mampu meningkatkan kemampuan rukyah (visionsvermoegen). Peristiwa mi‘raj, yang merupakan manifestasi pengalaman kenabian Muhammad, disebutkan al-Quran terjadi pada malam hari (l7:1). Tentu saja, pengalaman kenabian tersebut terjadi juga di waktu yang lain, tetapi frekuensinya mungkin tidak sebanyak di malam hari. Berbeda dengan pandangan ini, Jalal al-Din al-Suyuthi (w. 1505) menduga bahwa bagian terbesar al-Quran diwahyukan di siang hari.
Serangkaian gejala fisik yang menyertai pengalaman kenabian Muhammad, sebagaimana disaksikan sahabat-sahabatnya, juga banyak diungkapkan dalam hadits-hadits. Gejala-gejala tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: (i) keringat terlihat mengucur di dahi Nabi ketika menerima wahyu, bahkan pada hari yang bertemperatur dingin; (ii) Nabi menutup kepalanya, kulitnya bersemu merah, mendengkur seperti tertidur, atau bergemeletuk seperti unta muda, dan setelah beberapa saat ia pulih dari keadaan tersebut; (iii) wajah Nabi memucat kelabu; (iv) Nabi berada dalam keadaan tidak sadar diri (subath); (v) paha Zayd ibn Tsabit yang tertimpa paha Nabi ketika datangnya wahyu terasa dibebani beban yang berat sehingga seakan-akan hendak patah, demikian pula unta yang ditumpangi Nabi ketika datangnya wahyu terlihat tidak dapat menahan bebannya, sehingga Nabi harus turun dari punggungnya; dan lain-lain.
Gejala-gejala fisik yang dialami Muhammad ini telah menimbulkan sejumlah spekulasi di kalangan sarjana Barat. Pada abad pertengahan, gejala-gejala fisik tersebut biasanya dikaitkan dengan penyakit epilepsi. Teori penyakit ayan ini belakangan diperluas para sarjana Barat modern. Gustav Weil berupaya membuktikan secara ilmiah bahwa Nabi menderita sejenis epilepsi. Teori ini kemudian dielaborasi oleh Aloys Sprenger dengan menambahkan bahwa Nabi juga menderita histeria. Namun, dalam karya monumentalnya tentang sejarah al-Quran, Geschichte des Qorans, Theodor Noeldeke secara keras menolak dugaan atau teori bahwa Muhammad menderita epilepsi. Ia bahkan menegaskan realitas inspirasi kenabian Muhammad. Sekalipun demikian, Noeldeke masih mengemukakan anggapan bahwa Nabi mengalami gangguan emosi yang tidak terkendali, yang membuatnya yakin bahwa ia berada di bawah pengaruh Ilahi.
Dewasa ini pendapat-pendapat negatif tentang gejala fisik yang menyertai pengalaman Nabi telah banyak ditinggalkan karena tidak selaras dengan kebenaran dan data historis serta informasi yang diberikan al-Quran sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: