Articles

alquran: derivasi dan sinonim

In bahan dan handout kuliah on Mei 7, 2011 by Taufik Adnan Amal


Derivasi dan Pengertian al-Quran
Al-Qur’ãn (“bacaan” atau “yang dibaca”) adalah nama yang lazim digunakan untuk kitab suci kaum muslimin. Nama ini merupakan kata benda bentukan dari kata kerja qara’a (“membaca”). Di kalangan tertentu sarjana muslim, berkembang pendapat lain tentang asal-usul nama tersebut. Menurut pendapat ini, nama itu diturunkan dari akar kata qarana (“menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain” atau “mengumpulkan”). Jadi, al-qurãn – tanpa hamzah – berarti “kumpulan” atau “gabungan.” Tetapi, di sini harus diberi catatan bahwa penghilangan hamzah merupakan ciri khas dialek Makkah atau Hijazi, dan karakteristik tulisan al-Quran dalam aksara Kufi yang awal. Sebagaimana akan ditunjukkan, istilah qur’ãn pada faktanya bertalian erat dengan, dan terambil dari akar kata qara’a dalam penggunaan al-Quran sendiri.
Di kalangan sarjana Barat, kata qur’ãn – mengikuti teori Friedrich Schwally – dipandang sebagai derivasi dari bahasa Siria atau Ibrani: qeryãnã, qiryãnî (“lectio,” “bacaan” atau “yang dibaca”), yang digunakan dalam liturgi Kristen. Kemungkinan terjadinya pinjaman dari bahasa Semit – bahasa Arab termasuk ke dalam rumpun bahasa ini – untuk kasus semacam itu bisa saja dibenarkan, mengingat kontak-kontak yang dilakukan orang-orang Arab dengan dunia di luarnya. Lewat kontak-kontak tersebut, berbagai kata non-Arab telah dimasukkan ke dalam bahasa Arab atau “diarabkan.” Tetapi, seperti telah ditegaskan, istilah qur’ãn pada prinsipnya berasal dari penggunaan al-Quran sendiri, bukan derivasi atau “arabisasi” kata qeryãnã atau qiryãnî.
Kata kerja qara’a dan berbagai bentuk turunannya muncul 17 kali di dalam al-Quran. Kata ini muncul dalam sejumlah kesempatan dengan rujukan kepada pembacaan wahyu al-Quran oleh Nabi Muhammad (16:98; 17:45,106 cf. 7:204; 84:21). Dalam konteks lain, disebutkan bahwa Tuhanlah yang membacakan wahyu kepada Nabi (75:18; 87:6). Sementara dalam 73:20, terdapat dua kali perintah membacakan bagian-bagian termudah al-Quran, yang ditujukan kepada pengikut-pengikut Nabi ketika itu. Dalam 26:198-199, dikatakan bahwa jika al-Quran diturunkan kepada seorang non-Arab (a‘jam), lalu ia bacakan kepada orang-orang kafir (Makkah), maka orang-orang tersebut tidak akan mempercayainya.
Keseluruhan konteks bagian al-Quran yang dikemukakan di atas secara jelas memperlihatkan pertalian erat antara akar kata qara’a dengan al-Quran. Hal ini membuktikan bahwa, dalam penggunaan al-Quran sendiri, terma al-qur’ãn memang diturunkan dari akar kata tersebut.
Kemunculan kata kerja qara’a – dengan makna “membaca” – dalam konteks-konteks lainnya tidak terkait dengan qur’ãn, tetapi dengan kata kitãb. Dalam 17:93, Nabi ditantang orang-orang kafir mendatangkan dari “langit” sebuah kitab yang dapat mereka “baca” sebagai bukti kerasulannya. Dalam 17:14,71 dan 69:19, kata kerja tersebut dikaitkan dengan “pembacaan” kitab rekaman perbuatan manusia di Hari Penghabisan. Konteks terakhir (10: 94) merujuk kepada orang-orang tertentu yang sezaman dengan Nabi – barangkali orang Yahudi dan Kristen – sebagai “orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.” Dengan demikian, dalam konteks apapun, kata kerja qara’a digunakan al-Quran dalam pengertian “membaca,” baik terkait dengan qur’ãn ataupun kitãb.
Kata qur’ãn sendiri, baik dengan atau tanpa kata sandang tertentu (yakni al-), muncul sekitar 70 kali di dalam al-Quran dengan makna yang beragam. Dalam 75:17-18, kata ini digunakan merujuk wahyu-wahyu individual yang disampaikan satu demi satu kepada Nabi, atau sebagai suatu istilah umum untuk wahyu yang diturunkan bagian demi bagian (17:106; 20:2; 76:23; 25:32; dll.). Sementara pada sebagian konteks lainnya, al-qur’ãn – terkadang tanpa kata sandang tertentu (al-) – disebut sebagai suatu versi berbahasa Arab dari al-kitãb yang ada di Luh Mahfuz (43:2-4; 12:1-2; 41:2-3; 56:77-80; 85:21-22). Istilah ini juga merujuk kepada sekumpulan wahyu Ilahi yang diperintahkan untuk dibaca (27:92 cf. 16:98; 17:45; 7:204; 84:21; 73:20).
Penggunaan istilah al-qur’ãn yang paling dekat dengan pengertian yang umumnya dipahami dewasa ini – yakni sebagai kitab suci kaum muslimin – terdapat dalam 9:111. Dalam konteks ini, al-Derivasi dan Pengertian al-Quran
Al-Qur’ãn (“bacaan” atau “yang dibaca”) adalah nama yang lazim digunakan untuk kitab suci kaum muslimin. Nama ini merupakan kata benda bentukan dari kata kerja qara’a (“membaca”). Di kalangan tertentu sarjana muslim, berkembang pendapat lain tentang asal-usul nama tersebut. Menurut pendapat ini, nama itu diturunkan dari akar kata qarana (“menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain” atau “mengumpulkan”). Jadi, al-qurãn – tanpa hamzah – berarti “kumpulan” atau “gabungan.” Tetapi, di sini harus diberi catatan bahwa penghilangan hamzah merupakan ciri khas dialek Makkah atau Hijazi, dan karakteristik tulisan al-Quran dalam aksara Kufi yang awal. Sebagaimana akan ditunjukkan, istilah qur’ãn pada faktanya bertalian erat dengan, dan terambil dari akar kata qara’a dalam penggunaan al-Quran sendiri.
Di kalangan sarjana Barat, kata qur’ãn – mengikuti teori Friedrich Schwally – dipandang sebagai derivasi dari bahasa Siria atau Ibrani: qeryãnã, qiryãnî (“lectio,” “bacaan” atau “yang dibaca”), yang digunakan dalam liturgi Kristen. Kemungkinan terjadinya pinjaman dari bahasa Semit – bahasa Arab termasuk ke dalam rumpun bahasa ini – untuk kasus semacam itu bisa saja dibenarkan, mengingat kontak-kontak yang dilakukan orang-orang Arab dengan dunia di luarnya. Lewat kontak-kontak tersebut, berbagai kata non-Arab telah dimasukkan ke dalam bahasa Arab atau “diarabkan.” Tetapi, seperti telah ditegaskan, istilah qur’ãn pada prinsipnya berasal dari penggunaan al-Quran sendiri, bukan derivasi atau “arabisasi” kata qeryãnã atau qiryãnî.
Kata kerja qara’a dan berbagai bentuk turunannya muncul 17 kali di dalam al-Quran. Kata ini muncul dalam sejumlah kesempatan dengan rujukan kepada pembacaan wahyu al-Quran oleh Nabi Muhammad (16:98; 17:45,106 cf. 7:204; 84:21). Dalam konteks lain, disebutkan bahwa Tuhanlah yang membacakan wahyu kepada Nabi (75:18; 87:6). Sementara dalam 73:20, terdapat dua kali perintah membacakan bagian-bagian termudah al-Quran, yang ditujukan kepada pengikut-pengikut Nabi ketika itu. Dalam 26:198-199, dikatakan bahwa jika al-Quran diturunkan kepada seorang non-Arab (a‘jam), lalu ia bacakan kepada orang-orang kafir (Makkah), maka orang-orang tersebut tidak akan mempercayainya.
Keseluruhan konteks bagian al-Quran yang dikemukakan di atas secara jelas memperlihatkan pertalian erat antara akar kata qara’a dengan al-Quran. Hal ini membuktikan bahwa, dalam penggunaan al-Quran sendiri, terma al-qur’ãn memang diturunkan dari akar kata tersebut.
Kemunculan kata kerja qara’a – dengan makna “membaca” – dalam konteks-konteks lainnya tidak terkait dengan qur’ãn, tetapi dengan kata kitãb. Dalam 17:93, Nabi ditantang orang-orang kafir mendatangkan dari “langit” sebuah kitab yang dapat mereka “baca” sebagai bukti kerasulannya. Dalam 17:14,71 dan 69:19, kata kerja tersebut dikaitkan dengan “pembacaan” kitab rekaman perbuatan manusia di Hari Penghabisan. Konteks terakhir (10: 94) merujuk kepada orang-orang tertentu yang sezaman dengan Nabi – barangkali orang Yahudi dan Kristen – sebagai “orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.” Dengan demikian, dalam konteks apapun, kata kerja qara’a digunakan al-Quran dalam pengertian “membaca,” baik terkait dengan qur’ãn ataupun kitãb.
Kata qur’ãn sendiri, baik dengan atau tanpa kata sandang tertentu (yakni al-), muncul sekitar 70 kali di dalam al-Quran dengan makna yang beragam. Dalam 75:17-18, kata ini digunakan merujuk wahyu-wahyu individual yang disampaikan satu demi satu kepada Nabi, atau sebagai suatu istilah umum untuk wahyu yang diturunkan bagian demi bagian (17:106; 20:2; 76:23; 25:32; dll.). Sementara pada sebagian konteks lainnya, al-qur’ãn – terkadang tanpa kata sandang tertentu (al-) – disebut sebagai suatu versi berbahasa Arab dari al-kitãb yang ada di Luh Mahfuz (43:2-4; 12:1-2; 41:2-3; 56:77-80; 85:21-22). Istilah ini juga merujuk kepada sekumpulan wahyu Ilahi yang diperintahkan untuk dibaca (27:92 cf. 16:98; 17:45; 7:204; 84:21; 73:20).
Penggunaan istilah al-qur’ãn yang paling dekat dengan pengertian yang umumnya dipahami dewasa ini – yakni sebagai kitab suci kaum muslimin – terdapat dalam 9:111. Dalam konteks ini, al-Quran disebut secara bergandengan dengan dua kitab suci lain (Tawrat dan Injil) dalam suatu konstruksi yang memberi kesan tentang tiga kitab suci yang paralel.
Quran disebut secara bergandengan dengan dua kitab suci lain (Tawrat dan Injil) dalam suatu konstruksi yang memberi kesan tentang tiga kitab suci yang paralel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: